RENSING BAT – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Jami’ Nurul Islam Desa Rensing Bat pada Rabu, (07/01/2026). Ratusan warga tumpah ruah, bersimpuh dalam satu barisan yang sama untuk memperingati peristiwa agung Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Kehadiran para guru dan tokoh masyarakat seolah membawa kesejukan spiritual bagi warga yang rindu akan teladan sang Baginda.
Acara ini dihadiri oleh jajaran para tuan guru diantaranya TGH. Muh. Yusuf Makmun, TGH. Hudatullah Abdul Aziz, MA, dan TGH. Muh. Wirajaya, Lc. M.Sos. Turut hadir, Kepala Desa Rensing Bat, Bapak Muh. Hilmi, SE, bersama jajaran tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Membuka pintu hikmah, TGH. Muh. Wirajaya, Lc. M.Sos dalam pengantarnya membawa jamaah menyelami sisi emosional dari perjalanan ini. Beliau memaparkan bahwa Isra’ adalah perjalanan darat dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, bukan sekadar mukjizat fisik, melainkan sebuah pelipur lara dari Allah SWT.
“Isra’ Mi’raj adalah ‘hadiah’ terindah dari Allah untuk Nabi Muhammad SAW. Perjalanan ini terjadi saat Rasulullah sedang berada di titik tersulit dalam dakwahnya, dikepung berbagai cobaan yang menyesakkan dada,” tutur beliau dengan lembut.
Beliau menekankan bahwa Mi’raj, pendakian menuju Sidratul Muntaha, adalah puncak dari segalanya, Momen di mana langit terbuka untuk menyambut kekasih-Nya demi menjemput perintah shalat lima waktu.
Melanjutkan untaian hikmah, TGH. Hudatullah Abdul Aziz, MA mengupas lebih dalam tentang status kemanusiaan Nabi di hadapan Sang Pencipta. Mengacu pada Surat Al-Isra’ ayat 1, beliau mengingatkan bahwa dalam peristiwa yang terjadi pada 27 Rajab tahun ke-10 kenabian (620 M) tersebut, Allah menyebut Nabi-Nya sebagai ‘Abdan (Hamba).
“Sesungguhnya Nabi Muhammad adalah seorang hamba yang diperjalankan. Ini mengajarkan kita bahwa setinggi apa pun derajat manusia, kita tetaplah hamba yang butuh bersujud,” jelas TGH. Hudatullah.
Beliau menegaskan bahwa inti dari perjalanan agung ini adalah penjemputan wahyu shalat. Shalat bukan sekadar kewajiban yang menggugur beban, melainkan sarana komunikasi ruhani antara hamba dan Khalik. Secara khusus, beliau menitipkan pesan menyentuh tentang keutamaan salat berjamaah sebagai bentuk persatuan umat yang paling nyata.
Menjaga Warisan Langit dalam Keseharian
Peringatan ini menjadi pengingat bagi seluruh warga Desa Rensing Bat bahwa shalat lima waktu yang dilaksanakan sehari semalam adalah “Mi’raj”-nya orang beriman. Melalui salat, setiap individu memiliki kesempatan untuk ‘bertemu’ dan mengadu kepada Allah, sebagaimana Nabi bertemu Allah di Sidratul Muntaha.
Acara ditutup dengan do’a bersama dipimpin oleh TGH. Muh. Yusuf Makmun, Memohon agar cahaya Isra’ Mi’raj senantiasa menerangi setiap langkah warga Rensing Bat dalam menjaga shalat dan menebar kedamaian.



